<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1760">
 <titleInfo>
  <title>Irrational Consumer:</title>
  <subTitle>Perilaku Irasional yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dan Ariely</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>PT Bhuana Ilmu Populer</publisher>
   <dateIssued>2008</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Mengapa kita tetap merasa sakit kepala setelah minum obat generik, tetapi&#13;
&#13;
lantas sembuh setelah minum obat paten? Mengapa kita rela membeli lebih banyak barang demi ongkos kirim gratis? Mengapa kita sekarang rela menghabiskan lebih banyak uang untuk secangkir kopi, padahal beberapa tahun yang lalu, kita hanya membayar&#13;
&#13;
kurang dari Rp10.000,00?&#13;
&#13;
Mengapa kita suka mengambil barang gratis padahal kita tidak memerlukannya?&#13;
&#13;
Dengan menggabungkan eksperimen perilaku sehari-hari dan terobosan ilmiah, pakar ekonomi perilaku MIT, Dan Ariely, menjelaskan bagaimana harapan, emosi, norma sosial, dan kekuatan tersembunyi yang tampak tak logis telah memengaruhi pertimbangan kita dalam mengambil keputusan. sederhana&#13;
&#13;
Ariely menemukan bahwa kita selalu membuat kesalahan yang sama setiap kali. Secara konsisten kita membayar lebih banyak dari semestinya, meremehkan, dan menunda-nunda. Namun, perilaku menyesatkan ini tidak terjadi secara acak ataupun tak masuk akal, tetapi sistematis dan dapat diprediksi.&#13;
&#13;
Dari kebiasaan minum kopi hingga mengurangi berat badan, dari membeli mobil hingga memilih pasangan, Ariely menjelaskan bagaimana melepaskan diri dari pola pikir sistematis ini untuk membuat keputusan yang lebih baik. Irrational Consumer akan mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Pengambilan keputusan</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Thinking</topic>
 </subject>
 <classification>153.4</classification>
 <identifier type="isbn">6022491592</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan STKIP Al Hikmah Surabaya </physicalLocation>
  <shelfLocator>153.4 DAN i 2008</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">251781</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STKIP Al Hikmah (000-199)</sublocation>
    <shelfLocator>153.4 DAN i 2008</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>ic.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1760</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-02-20 10:22:14</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-20 10:22:29</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>